Sebuah perusahaan yang bergerak bidang manufakturing, PT. Blue steel Australasia akan membangun industri konstruksi [...]
Domestic steel prices are likely to rise 15 percent to 20 percent in the [...]
Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) memperkirakan permintaan alat berat pada tahun ini akan naik [...]
Industri baja di tanah air tampaknya harus waspada akan keberadaan produk baja dari China yang tidak memiliki kualitas standar. Pasalnya, saat ini banyak perusahaan baja China yang berskala kecil memindahkan usahanya ke Indonesia.
Ketua Umum Indonesia Iron and steel Industry Assosiation (IISIA) Fazwar Bujang mengatakan, setidaknya ada puluhan perusahaan baja skala kecil asal China yang berkapasitas produksi kurang dari 100.000 ton per tahun yang hijrah ke Indonesia. Pemicunya lantaran sejak 4 tahun yang lalu pemerintah China melakukan restrukturisasi industri bajanya.
“Di China, industri baja dengan kapasitas kurang dari 600.000 ton per tahun akan ditutup karena tidak efisien, makanya mereka mencari tempat baru di Indonesia,” kata Fazwar, kemarin (5/3).
Saat ini di China ada sekitar 1.000 pelaku industri baja dengan kapasitas produksi beragam. Dari jumlah itu, kata Fawzar sekitar 70% memiliki kapasitas di bawah 600.000 ton per tahun. Artinya, potensi perusahaan baja skala kecil ini untuk eksodus masih lumayan besar. Pasalnya, selain Indonesia dinilai masih longgar baik mengenai aturan keselamatan kerja dan aturan pengendalian lingkungan, nilai investasi untuk pabrik baja skala kecil ini lumayan murah, masih di bawah US$ 10 juta.
Dia menambahkan, perusahaan baja dengan skala kecil ini belum memiliki standar dan kualitas produk yang baik. Di Indonesia, investor baja dari China ini kebanyakan memproduksi baja tulangan seperti untuk beton. “Karena scrab sebagai bahan baku untuk produk ini mudah didapat,” katanya.
Dengan bahan baku scrab, memungkinkan investor ini membangun industri dalam volume dan kapasitas kecil. Perusahaan baja asal China ini tersebar di beberapa lokasi seperti Semarang, Surabaya dan medan. Tapi, sayangnya perusahaan kecil seperti ini menggunakan teknologi yang sederhana dan menggunakan tenaga manusia. “Selain membahayakan, kualitas produk yang dihasilkan juga tidak bisa terkontrol,” imbuhnya.
Karenanya, Fawzar berharap pemerintah menyikapi ini dengan tegas. “Relokasi industri baja dari luar negeri harus memenuhi standar kualitas baik nasional maupun internasional,” ungkapnya. sumber berita kontan online
PT Krakatau Steel hari ini kembali melakukan transaksi setelah selama sepekan menghentikan aktivitas transaksi karena harga bahan baku pembuatan dalam sepekan ini mengalami perubahan yang sangat cepat. “Untuk kontrak-kontrak baru seminggu ini kami hold (tahan),” kata Direktur Pemasaran Krakatau Steel Irvan Kamal di Kantor Krakatau Steel, Jakarta, Selasa (9/3).
Irvan menjelaskan, penghentian transaksi ini akibat kenaikan harga iron ore atau biji besi sebagai bahan baku baja yang mencapai 80 persen dibandingkan tahun lalu. “Saat ini kisarannya mencapai 67 persen,” katanya. Produsen biji besi di Brasil dan Australia sudah menyatakan akan menaikkan harga antara 40 sampai 80 persen.
Pihak Krakatau Steel mengaku kesulitan dalam menetapkan harga baja akan terbentuk. Banyak kesimpulan dan estimasi yang keluar di pasar internasional. Krakatau Steel ingin mengetahui secara pasti harga bahan baku baja, seperti biji besi, scrap atau besi tua. “Hold ini untuk mengamankan semua pihak, kecuali untuk order- order yang sudah kami terima, kami kerjakan sesuai kontrak,” ucapnya.
Saat ini harga baja hot rolled coils atau pelat hitam di pasar internasional mencapai US$ 750-900 per ton di negara pengekspor Jepang. Lonjakan harga itu disebabkan melonjaknya permintaan dari Cina. Negeri ini memproduksi baja 1,2 sampai 1,3 miliar ton per tahun atau 50 persen produksi baja dunia. Karena itu semua langkah yang terjadi di Cina berpengaruh terhadap industri baja dunia secara keseluruhan.
Selain kenaikan harga bahan baku, kabar naiknya harga minyak dunia di pasar spekulasi yang sudah mencapai US$ 81 per barel, bahkan ada yang memprediksi US$ 90 per barel, juga membuat Krakatau Steel berhitung. “Ini tentu akan menaikkan ongkos angkut barang yang diimpor demikian juga untuk komponen biaya energi,” tuturnya.
Irvan menjelaskan dengan kenaikan harga bahan baku dan minyak tersebut, Krakatau Steel kemungkinan akan menaikkan harga jual baja di pasar domestik. “Sejalan dengan estimasi kenaikan biji besi,” katanya. sumber berita tempointeraktif.com